Kembali menyusuri pelataran kosong
Tanpa siapapun hanya aku sendiri
Pekat gelap tersekat oleh lekatmu
Cekat-mencekat dalam ketakutan

Aku benar-benar tersadar dari mimpi
Mimpi yang membuatku tertidur hampir 3 bulan lamanya
Menanami pelataran dengan asoka
Menyiraminya dengan air sungai
Hingga membentuk taman indah

Kanal ditepiannya pun menjadi penuh dengan cerita indah
Seakan tak pernah terkuras habis
Tapi tak pernah sampai meluap-luap ke tepian
Seperti itulah mungkin cerita ini bermula

Tapi hari ini yang kulihat ternyata pelataranku masih kosong
Ia gersang, tandus, kering dan berserakan daun kering
Ah aku terlalu lama bermimpi
Aku terlalu lama melihat fatamorgana
Setelah laut menenggah dengan meninggalkan buihnya
Manyar mengepakkan sayap dengan meninggalkan sarangnya
Pangeran mengerakan kaki kudanya dengan meninggalkan buku dongeng
Pelangi tak lagi lengkung dengan meninggalkan warna hitam
sekarang Tamanku benar-benar rusak
Aku bahkan tak punya sebutan untuknya

Dia yang datang bahkan tak bernama karena aku tak ingin ia pergi
Tapi aku salah ….
Bernama atau tidak bernama jika masanya tiba untuk lalu maka ia akan lalu
Lalu seperti angin , pergi begitu saja
Dan aku masih saja tertegun duduk dipelataranku
Pelataran yang kusayangi
Pelataran yang ingin kubentuk taman kecil

Sungguh saat ini aku sedang ingin duduk dipelataran ini
Diam saja
Menanti senja yang tak pernah mengecewakanku
Tidak sekalipun laut menjauh, manyar beranjak, pangeran mengilang dan pelangi
menjadi tegak
Aku masih ingin diam dipelataranku ini
Aku masih ingin memandangi yang datang dan pergi
Dimana masih meninggalkan aromanya disini

Masih sangat tercium aromanya
Masih sangat menusuk kepalaku
Masih … Masih dan masih

Rumah Pohon
29 Maret 2012
10.00 WIB Image

Advertisements