Image

Ada yang berkata bahwa tulisan adalah perlambang diri kita yang sebenarnya, maka banyak yang menyarankan menulislah dengan hati dan tak lupa aturan – aturan yang berlaku dalam penulisannya sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan. Tak sedikit pula orang menjudge orang lain “hanya” berdasarkan sebuah tulisan , betulkah itu ???

 

Menulis menurut saya adalah kebutuhan dasar tiap manusia karena pada dasarnya tiap individu pasti memiliki sebuah rahasia yang tentu tidak ingin dia ungkapkan dan penyelesaian terbaik adalah menulis, kemudian di Sekolah Umum kita juga mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia tentang pelajaran dan tatacara menulis dengan baik dan benar, atau ketika kita mengerjakan skripsi dimana didalamnya terdapat tatacara penulisan yang dianjurkan, jika seperti ini salahkah saya mengatakan bahwa menulis adalah kebutuhan.

 

Kebutuhan menulispun terbagi lagi beberapa bagian jika seperti saya ini maka menurut saya ini termasuk kebutuhan sekunder yang artinya jika tidak menulispun saya tidak memiliki beban apa-apa jika menulispun saya juga tidak memiliki beban. Bagi saya menulis itu adalah sebuah ekspresi diri kita terhadap apa yang telah terjadi mau senang, sedih, formal, informal semuanya bisa terjadi bukan, dan oleh sebab itu saya tidak terlalu pakem menggunakan bahasa terlalu formal dalam tulisan saya. Mungkin kalimat yang tepat untuk kondisi saya adalah bisa menepatkan diri ketika hendak menulis, misalnya ketika hendak menulis sebuah artikel maka tidak mungkin didalamnya saya menggunakan kalimat loe-gue, begitupun sebaliknya ketika sedang santai atau mood sedang naik turun biasanya saya langsung memakai bahasa aku-loe-gue, bagaimana menurut anda apakah sah-sah saja ?

 

Banyak yang berkata bahwa ketika dalam menulis menggunakan aku-elo-gue adalah sebuah pencitraan, menurut saya kok bukan ya, pencitraan yang saya tangkap adalah ketika anda menulis sesuatu diluar diri anda dan menambah kesan baik untuk diri anda sendiri agar anda mendapatkan embel-embel berupa pujian, ya walaupun kesannya penggunaan aku-elo-gue adalah songgong, sombong dan belagu tapi saya tidak setuju jika dikatakan itu pencitraan. Secara pribadi saya sendiri lebih bisa menerima penggunaan aku-elo-gue daripada bahasa alay yang semakin tidak jelas dalam penulisannya dan menggerus bahasa indonesia itu sendiri.

 

Setahu saya kata loe-gue ini sudah digunakan sejak tahun 1970 dan menurut sumber yang saya baca dibeberapa buku atau web kata ini sering digunakan karena terkesan simple, dan sering digunakan di Negara Malaysia dan Singapura dan mungkin disebarkan oleh TKI yang bekerja disana. Menurut beberapa orang kata loe-gue ini sangat tidak sopan apabila digunakan dalam percakapan dengan tua, dan pendapat saya adalah sekali lagi kita harus bisa menepatkan diri dimana harus menggunakan elo-gue dan dimana tidak. Jadi sebenarnya apa masalahnya disini ? hanya karena loe-gue dianggap tidak layak ?, ya kembali lagi ke hak masing-masing individu bukan? dan saya rasa apabila kita memang telah dewasa maka hal seperti itu tentu tidak menjadi masalah, cobalah menghargai karya orang lain apapun bentuknya dan saya yakin jika ini terjadi maka tidak hanya tulisan bertema loe-gue saja yang aman, bahkan tulisan lain juga akan aman selama penulis-pun tahu dimana  dan bagaimana ia harus menulis.

 

Ya sudahlah karena tidak ada perkara lagi maka masalah loe-gue akan jadi end bukan?, setidaknya untuk kasus yang saya alami, silahkan anda menilai saya bagaimana ini hanya pendapat saya pribadi anda boleh setuju dan boleh tidak terserah.

 

Rumah Pohon

30 September 2012

20.00 wib

Advertisements