Guru … siapakah guru itu ? menurut orang jawa ada singkatan dari kata guru yaitu digugu lan ditiru yang jika diartikan dalam bahasa indonesia adalah ditaati dan dicontoh baik perkatan maupun perbuatan, sedangkan dalam skala luas Guru itu sendiri telah mendapatkan sebuah gelar yaitu “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” mereka mengajar, mendidik orang tanpa kenal lelah tanpa pamrih dari dahulu hingga sekarang. Tunggu jangan keburu protes dahulu karena siapapun bisa menyangkal hal tersebut diatas, karena siapapun tahu sekarang kesejahteraan Guru amat sangat jauuuuh lebih baik dibanding jaman dahulu tapi itu berlaku untuk semuakah ?, dan saya berani menjawab “Tidak”

Keluarga Besar saya sebagian besar berprofesi sebagai pengajar, teman sayapun tidak sedikit yang tercebur ke dalam bidang Pendidikan ini, termasuk saya yang pada akhirnya harus mengakui bahwa menjadi seorang pengajar adalah tuntutan hati saya. Mengapa saya menyebut sebagai pengajar, karena saya merasa belum layak untuk disebut sebagai Guru. Guru itu menurut saya adalah seorang pahlawan yang rela berkorban apapun untuk anak didiknya. Menjadi seorang Pengajar adalah mudah-mudah susah, diperlukan hati tulus, sedikit pengorbanan dan tentu saja tanggung jawab, karena apapun pekerjaan jika tidak ada rasa tanggung jawab saya yakin ia tidak akan pernah bisa berhasil. Tanggung jawab seorang pengajarpun tidak sebatas mengajar sesuai dengan kurikulum yang dibuat dengan sistem sylabus namun lebih dari itu, ia mampu mengajarkan nilai kemanusian, keadilan, dan Sosialisasi kepada muridnya melalui tindakan yang ia lakukan sehari-hari tentunya. Lantas bagaimana ceritanya jika ada seorang atau beberapa guru yang tidak mempunyai rasa tanggung terhadap pekerjaannya ?

Lantas adakah hubunganya antara kesejahteraan seorang pengajar dengan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaanya?, jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak. Tidak usah jauh-jauh untuk menilik kesejahteraan beberapa pengajar, tilik saja disekitar kita dimana dibeberapa sekolah masih mempunyai tenaga pengajar honorer. Beberapa nasib guru honorer sangat memprihatinkan, mengajar penuh 8 jam terkadang ada yang menjadi wali kelas dan hanya dihargai sebatas 2-3 lembar uang seratus ribuan, keadaan ini berbading terbalik dengan apa yang diterima oleh guru tetap belum lagi uang sertifikasi yang nominalnya satu kali gaji dan dibagikan tiap 3/6 bulan sekali tergantung pada ketetapan masing-masing daerah. Kemudian jika Guru honorer ini kemudian mencari tambahan dengan cara memberikan les diluar jam sekolah apakah salah? Saya menjawab “tidak”, yang salah adalah ketika para pengajar ini kemudian memanfaatkan situasi ini dengan menerima murid sebanyak-banyaknya, dengan sistem pengajaran yang kurang efektif dikarenakan mengejar jam yang mepet sekali (waktu memberikan pelajaran tambahan adalah berkisar antara jam 3 sore hingga jam 6 sore). Bagaimana bisa saya berkata kurang efektif ? , coba anda bayangkan sekarang tiap satu jam ia bisa mengajar 10-15 murid dari berbagai kalangan kelas (kelas 1-6) dengan 1 pengajar plus satu papan tulis dimana pada akhirnya saya lebih menganggap itu bukan pelajaran tambahan tetapi membantu menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Masalah ini ternyata tidak berhenti disini saja karena banyaknya murid yang menginginkan pelajaran tambahan akhirnya memicu rasa iri dari guru lain yang akhirnya membuat peraturan (saya tidak bisa menemukan kata yang pas untuk kalimat ini) agar mengikuti pelajaran tambahan dimasing-masing guru kelas dan jika tidak akan mendapat pengurangan nilai untuk beberapa atau keseluruhan mata pelajaran.

Saya mengada-ada ? tentu tidak, banyak sekali orang tua murid yang bercerita tentang keseharian anak-anak mereka disekolah, mulai dari kewajiban mengikuti pejaran tambahan dari kelas 1 dan ketika tidak mengikuti nilai rapornya menjadi turun padahal nilai ulangan harian dan umum bagus, atau memberikan soal ulangan yang belum pernah diajarkan, atau yang lebih ekstrim adalah ketika ada yang menceritakan kebanggaan bahwa anak mereka mendapat nilai bagus dikarenakan mendapat bocoran soal dari gurunya. Saya hanya sanggup berkata “WOW”, seperti inikah kualitas seorang pengajar yang amat sangat diperlukan untuk meneruskan perjuangan bangsa, potret buram seorang pengajar yang bisa saja berimbas buruk terhadap anak didiknya kelak. Dari sini saya sepertinya bisa mengambil kesimpulan sedikit yaitu bahwasanya kesejahteraan tidak ada hubunganya dengan tanggung jawab.

Saya cuma pengajar disebuah kursus Bahasa dan juga Pengajar di Playgroup, namun saya miris mendengar dan melihat hal seperti itu, mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah hal sepele tapi bagi saya hal ini tidak sepele. Mengajari anak untuk disiplin dan jujur dari dini tidak akan pernah ada ruginya saya yakin itu, bagaimana ia bisa menjadi seseorang pemimpin jika ia tidak jujur dan disiplin. Maka yang saya harapkan hanyalah mari bantu kami para pengajar untuk terus mengajar dengan baik, laporkan segera jika anda melihat ketidakbereskan, jangan malah dibiarkan hanya karena imbalan nilai anak anda bagus. Apakah anda bangga dengan nilai bagus katrolan ? bukankah anak anda jauh bisa lebih membanggakan dengan prestasinya sendiri. Sudah saatnya kualitas pengajar diperbaiki, bukan hanya pengajar yang disekolah saja tapi pengajar dirumahpun harus diperbaiki demi Indonesia yang lebih baik, sekarang pertanyaanya adalah maukah anda ?

 

Advertisements