Valentino Rossi pernah berkata bahwa dia sebenarnya sangatlah takut untuk naik sepeda motor dijalan raya, begitupun denganku yang amat sangat mengendarai sepeda motor. Kecelakan seminggu dua kali beberapa waktu lalu mungkin sedikit banyak mempengaruhiku. Aku merasa butuh pengendalian pikiran khusus untuk tidak hanya menaiki sepeda motor, bayangkan saja kita dituntut untuk tahu apa dan maksud dari si pengendara motor yang lain, yang bisa melakukan itu menurutku ya hanya dedy corbuzier.

Kala itu tiba-tiba pengendara sepeda motor didepanku menghidupkan lampu kanannya dan langsung belok kanan tanpa memberi jeda sedangkan aku yang berada nyata dibelakangkanya dengan jarak yang teramat dekat tidak mampu menghindarinya dan terjadilah kecelakaan itu, sementara kondisi kaki hanya benjol sedikit di bawah dengkul pas. Beberapa hari setelahnya ketika hendak membeli ice cream dari arah depan dengan (lagi-lagi) tiba-tiba diseruduk tepat dibagian depan sepeda motor, kontan kita (aku dan adik sepupuku) meloncat kemana-mana. Aku ke sebrang jalan dengan kondisi benjolan di bawah dengkul semakin membengkak dan jari kelingking kakiku sepertinya tulangnya melengse, sementara adik sepupuku mengalami step. Tunggu dulu coba tebak siapa yang menabraku ? Adalah dia orang mabuk, yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan perkiraan 80km/jam, tanpa menghidupkan lampu depan ditambah itu berada ditengah sawah, dan dia memakai jaket hitam dan sepeda motor hitam. Bagus sekali !

Dari situ dan sejak itu aku selalu merasa was-was jika naik sepeda motor padahal kondisinya adalah aku berada dibelakang, aku merasa tenang jika spedometer menunjukkan angka 20-30km/jam tapi bayangkan jika berpergian jauh dengan kecepatan seperti itu kapan sampainya ya . Sejak saat itu kemana-mana aku merasa seperti parasit harus diantar toh kalo tidak diantar akan ada transportasi colt diesel dengan jam kehadiran yang terbatas untuk kota kecil ini, sisanya aku harus naik becak. Okelah sekali dua kali tidak mengapa naik becak, tapi kemudian aku baru sadar ongkosku naik becak hampir sejuta sendiri, demi kecangkan ikat pinggang akhirnya dijalankan program jalan kaki, tapi itupun bukan tanpa resiko okelah perut sedikit mengecil tapi betis semakin besar hingga kalo dibuat gebukan pencuri sangatlah bisa, selain itu hujan hingga akhir Juni belumlah kunjung berakhir membuat semakin dilema.

Berbekal itu semua akhirnya diputuskan untuk kembali mencoba mengendarai sepeda motor, karena ternyata tetap lebih praktis dan murah (hoho ujung ujungnya tetap alasan ekonomi). Terbiasa mengunakan sepeda motor non matic dan sekarang dipaksa menggunakan matic yang bobotnya lebih ringan hingga tanpa kita sadari jika belum terbiasa kita akan kesulitan mengatur gas, kemarin saja hampir menyenggol sepeda motor lain waktu latihan dengan membonceng adikku. Yang kurasakan adalah beban tiba-tiba sangatlah berat dibelakang tidak seperti motor tak yang tak berasa berat, apalagi yang matic super ringan ketika memulai men-gas sepeda motor kadang suka keblabasan.

Tak diduga keponakan datang dengan motor matic yang lain yang bobotnya lebih berat dan aku mencobanya berkeliling sekitar rumah ternyata berhasil, kontrol gas agak stabil karena dia lebih berat. Jadi lumayan bersemangat lagi mengumpulkan keberanian untuk menyebrang oohh andai ada opsi lain hahahaha. But beginilah hidup hadapi saja.

C’est la vie

Rumah Pohon
30 Juni 2013
22.00 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements