Beraaaaaaat
Judulnya berat banget
Berawal dari sebuah tulisan seseorang “Logic cure me” , dari situ kemudian berfikir sedikit lebih banyak apakah benar logika bisa menyembuhkan ?

Mungkin bagi orang-orang tertentu dengan tingkat otak yang encer dan logika yang top markotop hal ini pastilah berlaku, bagaimana dengan aku yang hidup serba diantara pertengahan rasanya untuk berfikir secara logika itu ampun-ampun bikin capek kepala dan pasti berakhir dengan minum obat sakit kepala .

Mengapa aku cenderung enggak berfikir dengan logika ?
Sebenarnya bukan enggan tapi malas saja. Dahulu aku adalah orang yang berfikir dengan logika semua harus masuk logika, jika tidak maka akan ada pertanyaan demi pertanyaan susulan yang tiada berhenti dan sungguh itu menguras energi dengan amat sangat. Aku mudah lelah, aku mudah maraah, aku mudah curiga terhadap orang dan entah beribu ribu keburukanku lagi.

Lantas apakah dengan tidak berfikir dengan menggunakan logika masalah terselesaikan ?
Sebenarnya jawab tidak. Tapi jikalau boleh sedikit memberikan alasan maka alasannya adalah dengan mengesampingkan sedikit logika kita rasa curiga terhadap orang lain akan sedikit berkurang, sudah lumayan ramah dengan orang lain, tidak mudah capek dan pusing lagi lantas apa masalahnya sekarang ?

Terlalu enak berfikir tidak menggunakan logika terlalu lama membuat otak tumpul, semua informasi langsung dimasukan tanpa ada penyaringan, lebih sering dimanfaatkan oleh orang lain, sering dianggap bodoh oleh orang lain.

Apa ingin seperti ini ?
Ah tidak lah capek juga jika harus terus menerus ditipu orang terus dan itu orang terdekat kita yang sudah kita percaya. Lantas bagaimana ? Entahlah .

Kemudian yang ada aku mencoba kembali menggunakan logika-ku yang sudah mati suri, membangunkannya adalah sebuah hal yang sulit meski tak mustahil, hanya butuh proses dan waktu. Dan ketika menunggu itu aku harus bagaimana ? Tidak bagaimana-bagaimana jalani saja semuanya seperti adanya.

Terkadang kita memang harus menyeimbangkan antara. Logika dan hati, hanya saja susah untuk menyeimbangkan keduanya dan aku juga masih lebih besar hati dibanding logika, dan lagi lagi jika terjatuh hanya bisa berkata “hatiku mampu menyembuhkan luka itu tinggal berdoa saja”

Bodoh mungkin, bahkan banyak yang berkata seperti itu dan aku hanya bisa tersenyum karena ketika aku mencoba menyembuhkan luka dengan logika yang ada hanya sebuah kata “mengapa dan mengapa” .

Kalau kata Bapak Mario Teguh “woleeees”
Dan aku juga berfikir santai sajalah Mengutip quotes dari bahasa latin “Quam bene vivas refert, non quam diu ” yang artinya “Yang terpenting adalah bukan seberapa lama kamu hidup, tetapi seberapa baik kamu hidup.”
And Iam trying to be a good person (sok ngenggris)

Whatever lah…

Rumah Pohon,
2 Januari 2014
11.11 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements