River”

So follow me, I’ll be your river, river
I’ll do the running for you
Follow me, I’ll be your river, river
I’ll move the mountains for you
Follow me, I’ll be your river, river
I’m here to keep you floating
Follow me, I’ll be your river, river
River, river

Lagu dari Emeli Sande

Mbak dengan suara berat yang membuatku langsung suka dengan lagu ini yang notabene-nya susah dimengerti artinya. Lirik yang tak mudah, aliran musik yang tak umum, kawan duet yang tak membumi akhirnya membuat album Emeli Sande hanya terbatas pada kalangan tertentu.

Kenapa suka lagu ini ?

Ada kalimat “i’ll be your river river”
Dan kupikir akulah yang menjadi sungai itu untuknya ternyata semalam baru sadar dialah yang menjadi sungai untukku, dia yang melakukan apapun untukku dan aku hanya tinggal melewati-nya saja itupun aku masih merasa aku yang melakukan sendiri, bukan dia !

SOMBONG !

Ah iya, awalnya bahkan aku tak percaya ada seseorang yang mengatakan aku sombong, benar-benar tidak percaya sebab menurutku sendiri aku jauuuuuuh sekali dari persepsi sombong. Hmmm ternyata kategori sombong itupun ada beragam dan tidak hanya satu saja seperti dugaanku sebelumnya.

Teman bahkan Sahabat tak pernah ada yang mengatakan aku sombong entah sungkan atau memang tak ada kamus sombong dimereka, entahlah aku tak tahu pasti.

Satu hari seseorang yang kukenal pernah kutanyai
“Apakah aku sombong” dan tanpa kuduga ia menjawab “iya ada sifat sombong didirimu”
Sebenarnya marah waktu dia mengatakan hal itu, tapi aku berusaha tenang, andai kita berhadapan mungkin ia akan tahu lebih cepat jika aku marah karena mulutku sudah monyong 5cm.

Lantas aku bertanya “sombong dalam hal apa ?”
“Dalam hal tidak bisa menerima saran”
“What” (dalam hati) dilanjutkan “hey man kau tidak menjugje seseorang hanya karena ia tidak bisa menerima saran”

Suara lebah langsung berdegung bising ditelingaku, bising sekali antara rasa tidak terima, merasa dihina, maraah tidak jelas, entah semua tumpah ruah menjadi satu dalam bejana besar dan ia tidak mampu langsung pecah hanya retak dan itu rasanya sakit.

Tapi beberapa hari kemudian tanpa sadar ketika asyik menulis nama seseorang dibuku, labirin-labirin diotakku seakan-akan menemukan jalannya. Aku mengakui jika aku susah menerima saran (bukan tidak mau) tapi memang butuh waktu untuk dia kemudian masuk dan diproses dan menjadi kalimat perintah diotak. Setidaknya saat itu aku mengerti satu hal bahwasanya terkadang persepsi satu orang dengan lainnya itu berbeda, jangan menelan mentah-mentah apa yang diberikan padamu bisa-bisa kau akan muntah karena kelebihan muatan untuk otakmu.

Semalam kembali tersadar bahwasanya seseorang itu benar. Aku beranggapan akulah sungai itu, akulah muara itu, akulah yang memidahkan semua, aku aku aku dan dia kemana ?
Ternyata mataku tertutup oleh anggapan anggapan yang aku anggap benar (tentu oleh diriku sendiri), hingga aku beranggapan akulah yang melakukan banyak hal.

Lantas ?
Inilah yang diperlukan keluasan hati untuk menerima sebuah saran yang masuk. Terkadang kita (aku terutama) menerima saran dari seseorang itu bisa dalam berbagai versi yaitu :
1. Karena benar-benar ikhlas
2. Karena menghormati (artinya belum tentu ikhlas)
3. Karena terpaksa (daripada menyulut masalah)
4. Malaas
Aku yang mana ? Semuanya sudah pernah aku jalani dengan porsi sama, jadi kemudian satu hari akan muncul pertanyaan kembali atas saran tersebut.

Yah aku bukan manusia sempurna, meskipun usia jauh melebihi labil aku masih sering labil, artinya apa ?
Artinya itu tadi karena aku merasa BENAR, stigma kebenaran diotakku menolak saran yang bertentangan dengan aliran kebenaranku. Dan baru 2 bulan terakhir ini stigma-ku berubah.

Berubah total ? Belumlah , still in process.
Tapi setidaknya tiap saran masuk itu langsung diterima baik, berusaha diproses dahulu, bukan langsung ditolak mentah-mentah.
kesadaran diri mungkin datang terlambat tapi yah apapun itu ini sebuah pelajaran yang lagi-lagi berharga jika dibanding sebuah harga diri tentang stigma “benar”. Siapa sih yang ingin dirinya dikatakan salah ? Hampir tak ada bahkan dalam hatipun belum tentu juga , tapi ketika kesadaran diri datang maka tak perlu bermuluk muluk kata maka semua sepertinya sudah langsung masuk dalam otak.

Mengapa baru sekarang ?
Mengapa tidak ?
Telat Kª♏u … Daripada tidak …
Pergolakan batin terus terjadi, hal biasa bukan ?

“Audiatur et altera par”s artinya dengarkan semua sisi . Ada yang pernah membaca buku 5 cm, bahkan disitu tertulis bagaimana seorang yang pandai sekalipun selalu mendengarkan pendapat dari semua sisi tak hanya satu.

Lebih bijak sedikit,
Ah elok welcome to the new world

*kemudian tiba-tiba diotakku bergema lagu klub sepakbola yang aku benci yaitu Liverpool “you’ll never walk alone”*
And i like this song, suddenly !

Rumah Pohon,
4 Januari 2014
05.00 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements