“Kamu tidak akan pernah merasakan berartinya seseorang sampai kamu kehilangan dia”

Pernah dengar quote ini ?
Jawabku “sering”, tapi masalahnya ketika kehilangan itu terjadi belum pernah merasakan sesuatu / seseorang itu berarti sampai pada saat tanganku mengetik huruf-huruf kecil ini dimalam gelap karena mati lampu.

Dahulu aku sering menjumpai sebuah peristiwa yang bahkan aku pernah mengalaminya sendiri yaitu kita dituntut berubah mengikuti lingkungan (inget lingkunagn itu luas ya), jadi pada akhirnya kita yang terbawa arus dan iya kalo arusnya nggak deras lah kalo deras apa jadinya kita ?
Tenggelam ? Ya iyalah pasti dan yang lain tinggal bilang sukurin (ini berdasar asas ketidaksukaan)

Lantas solusinya ?

Kemudian aku menginggat nasihat seseorang yang pintar, dia pernah berkata “ajak lingkungan untuk mengikuti kita bukan sebaliknya”

Mengertikah anda (terutama aku) ?

Awalnya tidak, sama sekali tidak.
Nol besar wong aku ini adalah orang yang fleksibel dan saking fleksibelnya bisa dibilang labil mungkin.

Kemudian lagi-lagi teringat dahulu aku adalah orang yang susah untuk beradaptasi dengan hal baru, harus mengenali situasi lingkungan dulu, harus ini harus itu untuk sekedar penyesuaian tapi efeknya bagus aku tidak mudah tenggelam dimana-mana. Kemudian akan muncul pertanyaan kedua tentunya kemanakah diri aku yang dulu ?

Itu dia , aku yang dulu sudah benar-benar berganti total, dan kesalahan utamaku adalah ketika terjadi pergantian total itu ikut melibatkan semua aspek yang akhirnya mampu membentuk sebuah kondisi pribadi baru yang terkadang saat inipun aku gak mengerti sama sekali.

Sebenarnya gampang-gampang susah kembali ke bentuk semula, mungkin gampangnya adalah asalkan ada tekad maka semuanya bisa (klise ah) tunggu dulu belum selesai nih. Aku harus menemukan kunci agar aku mampu kembali ke masa lalu tanpa membuka sebuah kotak pandora yang sengaja kututup dan kuhilangkan bersama kepribadianku.

Salah total !

Itu kuncinya, aku berubah karena keadaan.

Dan itu terbawa hingga sekarang, mencoba untuk berubah sesuai keadaan yang nyaman. Padahal sejatinya tidak akan pernah ada kondisi nyaman didunia ini yang berlangsung lama (kalo sebentar saja Îγα™ banyak lah).

Dan maksudnya adalah janganlah berubah karena keadaan, karena itu pastinya tidak akan pernah berlangsung lama, keadaan akan selalu berubah-ubah dan itu mengakibatkan aku terutama-nya capek sendiri mengikuti alur perubahan tersebut, meskipun awalnya aku merasa bahagia.

Terkadang kita harus nunggu kepala diketok dulu baru bisa mikir, kenapa ? Karena zona nyaman kita.
Kita merasa nyaman hingga malas untuk kemana-mana lagi dan itu lagi-lagi SALAH.

Lantas kaitan paragraf awal dengan tulisan ini ?

Klise saja sebenarnya aku ingin mengatakan bahwasanya kupikir dengan aku ingin berubah sesuai kehendak seseorang masalah menjadi selesai tapi yang ada tidak, karena diriku harus kembali menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang ada.

Mudahnya begini jikalau aku ingin berubah itu harus karena keinginan pribadi bukan karena mengikuti lingkungan karena jatuhnya terpaksa atau memberatkan, jika sesuatu itu sudah memberatkan maka sampai kapanpun akan terasa susah dijalani.

Uuups akhirnya kelar juga intinya …

That’s the point !

But,
Ketika aku menyadari hal ini justru sudah telat, lingkungan dan seseorang itu sudah pergi. Menyesalkah ?
Iya, sangat menyesal bahkan
Tapi akan lebih bijak jika aku mulai berubah kembali sesuai dengan aku dahulu, dan akan jauh lebih baik jika itu dilakukan sekarang meski terlambat daripada tidak sama sekali.

Mungkin satu kesempatan telah hilang karena kecerobohanku sendiri, tapi bukan berarti kecerobohan itu akan terus membuatku makin terpuruk. Setidaknya akan aku buktikan (untuk diriku sendiri) bahwa aku bisa berubah.

Dan kesempatan gak datang dua kali itu benar, setidakna karena kesempatan pertama hilang mungkin jatuhnya sekarang lebih berhati-hati.

Ah berterima kasihlah selalu pada hidup, ia mengajarimu banyak hal meskipun kau harus jungkir balik menjalaninya. Satu saja pesanku jangan pernah berubah karena lingkungan itu sama saja akan membunuhmu perlahan.

“Cuiusvis hominis est errare” artinya tiap manusia pasti berbuat salah

Aku juga tapi yang terpenting bagaimana caranya agar tidak terulang kesekian kalinya (kalo 2,3 itu biasa proses namanya … Ngeles).
Pencerahan malam ini

*terima kasih untuk telpon tak terduga*
**Ya Allah hidup ini indah**

Rumah Pohon,
3 Januari 2014
12.22 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements