कर्ण

Siapa tahu Karna atau dikenal dengan nama lain Basuseno ?
Aku lebih mengenalnya dengan nama Karna atau dalam wayang jawa disebut adipati Karna. Hmmmm mungkin ada yang bertanya siapa sebenarnya Karna itu hingga aku menggilai tokoh ini yang masuk dalam tokoh antagonis

Sebenarnya Karna adalah saudara tertua dari 3 pandawa (Yudistira, Bima dan Arjuna). Hanya saja mereka terlahir dengan berbeda ayah namun satu ibu yaitu Kunti. Kunti memiliki anugrah Adityahredaya yaitu ilmu untuk memanggil dewa dan mendapat anugrah anak, dan tanpa Kunti sadari ketika ia memandang matahari maka ia menggunakan ilmu tersebut dan datanglah Batara Surya dan memberikan anak, tapi berkat pertolongan sang dewa pula maka Kunti yang saat itu belum menikah mampu melahirkan dan ditutup kembali hingga ia nampak masih seorang gadis, dan demi menjaga nama baik keluarga maka dibuanglah anak dari Batara Surya itu disungai Aswa.

Kemudian bayi tersebut ditemukan oleh Adirata yang merupakan kusir pasukan Kurawa. Bayi itu diberi nama. Basusena namun ia lebih dikenal dengan nama Radheya yang berarti anak dari radheta (istri Adirata). Setelahnya baru ia diberi nama Karna yang mempunyai 2 arti yaitu “telinga” dan “mahir mengerjakan semua hal”
Dan Karna termasuk dalam arti yang kedua.

Karna bercita-cita ingin menjadi perwira tapi ia ditolak masuk oleh Drona karena ia bukan dari golongan Ksatria, maka Karna mencari guru lainnya dan bertemulah ia dengan Parasurama dengan cara Karna menyamar menjadi seorang kaum Brahmana, namun karena ketahuan berbohong maka ia dikutuk bahwa kelak ketika berperang ia akan lupa semua mantra yang pernah ia ajarkan dan ia juga mengalami kutukan kedua yaitu ketika berkendara dan menabrak sapi milik seorang Brahmana dan ia dikutuk bahwa kelak ketika perang kendaraannya akan tenggelam kedalam lumpur.

Ketika Drona hendak memamerkan keahlian memanah Arjuna datanglah Karna yang menjadi penantang tapi ditolak oleh Drona karena Karna tidak sederajat, Duryudana pun langsung maju dan membela Karna dan tanpa dinyana Duryudana meminta ayahnya untuk memberikan kedudukan layak kepada Karna, dan disetujui. Adirata ayah Karna yang mendengar hal itu gembira bukan alang hingga langsung maju kedepan dan akibat perbuatannya itu semua orang tahu bahwasanya Karna adalah hanya anak seorang Kusir. Bima yang mengetahui hal itupun tak lepas mengejeknya dan ini yang membuat Karna menjadi sakit hati, apalagi ketika mengikuti lomba memanah dan Karna menang Drupadi menolak keras menerima pinanganya dan malah membuat aturan berlomba baru hingga Arjuna-lah yang berhak atas Drupadi.

Dan sebelum pecah perang antara Pandawa – Kurawa Sri Kresna datang dan memberitahu Karna bahwasanya ia adalah saudara tertua Pandawa dan ia diajak bergabung dengan Pandawa tapi Karna menolak ajakan itu karena ia pernah bersumpah akan tetap disisi duryudana karena ia yang telah membuat derajatnya naik hingga tidak dipandang sebelah mata. Bahkan Dewa Indra-pun gusar akan kejadiran Karna takut anaknya yaitu Arjuna akan menjadi sasaran Karna. Dan karena hal itulah Indra menyamar menjadi seorang resi tua dan hendak meminta baju perang anti senjata yang dipakai Karna. Batara Surya yang mengetahui hal tersebut berusaha memberitahu Karna dan jawaban Karna “aku tetap akan memberikan apapun yang diminta orang lain padaku” dan Batara Surya tidak dapat berkata apapun lagi.

Ketika Dewa Indra berhasil mendapatkan pakaian istimewa Karna, ia merasa terharu dengan ketulusan Karna oleh sebab itu ia memberikan senjata Konta kepada Karna dan senjata itu hanya bisa dipakai sekali saja. Dalam pemikiran Karna senjata itu nantinya akan dipakai untuk membunuh Sang Arjuna namun sebelum hal itu terwujud datanglah Kunti memohon agar Karna mau bergabung dengan Pandawa tapi Karna tetap bersikukuh tapi disisi lain karena menghormati Kunti sebagai Ibunya maka ia bisa menjanjikan bahwasanya ia tidak akan membunuh saudaranya kecuali Arjuna.

Saat perang benar meletus dihari kesepuluh dimana Bisma sebagai Panglima harus terbujur diatas ratusan anak panah ditubuhnya, Karna yang tak pernah sepahampun merasa iba dan menjenguk Bisma, Bisma hanya memberi satu nasehat agar Karna bergabung dengan Pandawa dan ia menolaknya. Setelah Bisma lengser maka Jabatan Panglima jatuh ditangan Karna dan ia berperang dengan gagah berani bahkan ia bisa mengalahkan ke-4 tokoh pandawa tapi tak ada satupun yang meninggal karena ia telah bersumpah pada Kunti, dan tibalah saat ia berhadapan dengan Arjuna.

Sebelum berhadapan dengan Arjuna sebenarnya senjata Konta milik Karna sudah terpakai untuk membunuh Gatotkaca yang mengamuk dan mengancam keselamatan pasukan Kurawa, padahal sebenarnya itu memang sebuah taktik agar Arjuna tidak terbunuh dalam perang tersebut. Dan ketika berhadapan dengan Arjuna Karna benar-benar tidak mempunyai senjata andalan, pun ketika ia hendak menggunakan mantra gurunya ingatannya menghilang dan menyusul kutukan kedua datang yaitu keretanya jatuh terjebak dalam lumpur dan Sri Kresna mengutus Arjuna segera membunuhnya.

Tragis !

Benar-benar tokoh kesayanganku dengan segala ketragisanya. Karna yang sombong, egois, tapi ia juga dermawan, menjunjung tinggi nilai kesatria. Bahkan beberapa versi ada yang menyebutkan ketika meninggalpun Karna ikut berkumpul dengan Pandawa menjadi penghuni Surga bukan ikut serta dengan Kurawa.

Sisi kompleks yang melekat membuatku kagum, walaupun mungkin banyak yang mencela bahkan tak suka pada Karna karena tokoh Antagonis tapi lihatlah dia adalah orang yang mampu menepati janjinya sekalipun itu harus mengorbankannya. Pun demikian ketika Indra meminta baju anti senjatanya karna memberikan dengan ikhlas.

Banyak pelajaran yang aku ambil dari dia yang mungkin sekarang ini harus diterapkan kembali 🙂 , ambil yang baik, perbaiki yang kurang dan buang yang tak baik. Dan Karna akan tetap sebagai Pahlawan Wayangku selama lamanya.

Selamat Mewayang !

Rumah Pohon,
5 Januari 2014
03.00 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements