Ciiiiiit
Bunyi decitan rem merongrong panjang sekali tanda akan ada penumpang yang entah naik atau turun. Mataku kemudian berputar-putar mencari tahu dan ternyata masuklah seorang bapak separuh baya lebih yang pada akhirnya aku ketahui dia tidak ingin dipanggil kakek.

Sok bijak langsung aku berdiri memberikan tempat dudukku
“Silahkan duduk kek”
“Lho kenapa”
“Buat kakek”
“Lho Kamu anggap saya ndak kuat berdiri apa?”
“Bukan kek”
“Lantas”
“Maaf kek”
“Oalah nduk saya dan kamu saja jika diadu lomba berdiri 7 jam saja, saya ndak yakin kamu menang”
Aku tertunduk
“Ngopo kok ndingkluk?” (kenapa kok tertunduk?)
Sejurus si kakek melanjutkan
“Aku iki wes tua memang tapi ojo salah lho nduk aku isih kuat kalau harus jalan 7 jam, aku yo isih kuat kalo disuruh berdiri , ora seperti anak saiki do manja kabeh”
“Ngapunten lho” (maafkan saya)
“Kudune sing berdiri itu ora wong wedok, tapi itu anak laki-laki yang sibuk dolanan hape” kata si Bapak sambil menunjuk gerombolan anak lelaki dibangku depan
“Saya ikhlas”
“Aku sing ora ikhlas, mau digimanakan kamu wanita mosok wanita ngasih bangku buat lelaki”
Mataku melotot mau lepas dan tercetuklah “lelaki?”
“Lho aku wong lanang kan ?”
Dan belum sempat aku menjawab ia kembali berkata
“Meskipun aku iki wes tua tapi tetep kategori lelaki lho”
“Ah iya” desisku

Bunyi decitan kembali pamer unjuk gigi dan kali ini aku tak terganggu sama sekali karena ada beberapa hal yang sangat menyentuhku.
“Kok ngelamun nduk”
“Mboten kok”
“Mulutmu berkata tidak tapi matamu berkata Îγα™ nduk”
“Hahahahaha” tawaku lepas seketika
“Nduk kamu bisa bohong tapi tidak matamu”
“Injih”
“Opo isik mikir kategori lelaki mau nduk?”
Mataku memandang nanar
“Kene nduk dengerin aku cerito”
“Inggih”
“Sing jenenge lelaki kui ra peduli tuo, muda, bayi kalo kodratnya lahir sebagai lelaki ya dia itu lelaki, nah terkadang kami yang tua iki selalu dianggap bukan lelaki hanya karena dia sudah tua, ojo salah meski tua aku masih bisa bikin anak lho”
“Weeeeeeee” jeritku spontan
“Mau nyoba ?”
“Aaaaaa”
“Guyon guyon nduk, mulo aku ndak mau nerima tempat dudukmu nduk karena aku iki lelaki meskipun aku sudah tua”
“Walah simbah iki”
“Huuuush ojo manggil aku simbah ora keren, kesane aku kok wes tuek”
“Lah panjenengan kan sampun …”
“Wes stop stop, umur iku cuma rapalan angka nduk, kalo kamu terpaku hanya diangka itu kamu gak pernah dapat apa-apa kecuali angkamu makin lama makin akeh”
Dalam hati membenarkan secara cepat
“Mulo aku emoh dipanggil simbah, panggil aja bapak rasane aku masih muda, semangat muda, pikiran yo isih muda lek coro hape kata cucuku itu kita harus upgrade”
“Glek” suara air liur tertelan
“Haus nduk?”
“Mboten pak”
“Hahahaha lucu kamu itu nduk”
“Ngawi … Ngawi … Ngawi ayo yang Ngawi minggir siap-siap turun” teriakan kondektur langsung menghentikan tawa sang bapak .
“Nduk bapak turun sini, hati-hati yo nduk”
“Inggih pak matur suwun”
“Walah kok malah matur suwun wong aku ora ngasih kamu uang kok”
“Ilmu”
“Hahahaha ilmu iso dapat dari mana mana nduk, kamu hanya kudu merunduk supoyo ilmu kui masuk” dan si Bapak langsung turun dengan segera.

4 jam tersisa sebelum perjalananku berakhir di Kertosono dan itu aku habiskan dengan tersenyum sampai mas-mas yang duduk disampingku bingung dan aku dengan cueknya tetap tersenyum.

Bahkan dalam bis-pun aku masih mendapatkan sebuah pelajaran baru.

Rumah Pohon
4 Januari 2014
12.00 wib

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements