Tags

Surat kesepuluh, 10 februari 2014

Hai Manyar ,
Lama tak kusapa dirimu dalam rimbamu yang sejatinya tak juga ku ketahui dimana rimbamu kini. Tiba-tiba saja kau hadir kembali dengan sayapmu yang terluka dan meminta obat dariku, akankah kuberikan ?

Ah Manyar bagaimanapun juga kita pernah sama sama melintasi biru dan jingga dengan kepak yang sama jadi tak ada salahnya kuberikan obat itu namun takkan lebih dari sekedar obat penghilang luka.

Terkadang ingin aku bertanya mengapa dulu kau mengepakkan sayapmu menjauhiku namun urung kulakukan karena toh itu tlah lalu dan tak akan ada gunanya mengungkit jadi biarkan saja menjadi sebuah tanda tanya dengan lengkungnya yang indah.

Kemarin yang kulihat lukamu mengangga cukup lebar, entah apa yang terjadi pada sayapmu, dan siapa yang melukaimu aku tak tahu, dan aku juga tak mau tahu. Tugasku cukup mengobatimu saja titik.

Namun semalam engkau sempat memberikan sebuah kunci dan katamu kunci itu adalah menuju rumah yang merupakan hatimu, lantas kau ingin aku menjamahmu ?
Tidak !

Manyar, aku tak ingin berandai andai kembali, jikalau kepakmu ingin berhenti mengudara silahkan, jikalau kau juga hendak merajut sarang disatu tempat silahkan, lakukan yang kau mau, namun takkan merubah apapun saat ini.

Entah nanti !

Karena sayapmu pernah membuatku jatuh dan itu sakit sekali sungguh.

Selamat menyembuhkan luka , Manyar.

–by@elok46–

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements