Tags

Surat ketigabelas, 15 Februari 2014

Dear Pelangiku,

Surat ini sedikit terlambat karena harus mengurus rumah dahulu setelah erupsi Kelud yang membuat lampu matii selama beberapa puluh jam.

Entah bagaimana awalnya aku juga tak tahu, yang ku tahu aku hanya singgah diberandamu dan ternyata kau sedang berulang tahun, dan tulus ku ucapkan sebuah doa. Dan kita berkomunikasi kembali khususnya dimalam ketika Kelud akan meletus. Jam 10.49 ketika sebuah letusan terlontar diudara, dan terulang selama tiga kali dan setelahnya terjadi hujan kerikil .

Ketika kerikil berjatuhan mungkin belum membuatku ketakutan karena bunyinya hanya seperti hujan yang tengah singgah, namun ketika guntur silih berganti unjuk gigi aku mulai ketakutan dan aku tak tahu jadinya aku sendiri dalam keadaan matii lampu pula.

Kau tau kan pelangi jika aku takut sekali dengan guntur, geluduk dan kilat dan aku trauma sekali dengan ketiga-nya, dan kau berusaha untuk terus berkomunikasi denganku meskipun tiap beberapa menit selalu terputus.

Aku yang mulai paranoid sendiri merasa sedikit lega karena ada yang menemani dan entahlah tiba tiba aku tertidur dan terbangun dalam keadaan tengkurap memeluk handphone-ku.

Sebenarnya sebelum kejadian ini aku sudah ingin mengajak pelangi-ku bercakap-cakap bukan untuk membuka luka lama, tapi justru karena aku ingin membangun pertemanan kembali yang sempat runtuh. Dan kurasa bisa dilakukan meski sedikit terlambat.

Ah terima kasih pelangiku, atas kesempatan hingga kita kembali bisa berkomunikasi, terima kasih kepada diriku sendiri yang mampu menundukkan ego hingga mau menjalin pertemanan kembali, terima kasih untuk waktu yang telah menyembuhkan semuanya diantara kami, dan mungkin mendewasakan kami berdua .

Haii pelangiku aku kangeen kita berkomunikasi lagi dan itu terjadi !

–@elok46–

Advertisements