“Ndut gimana keadaanmu disana?”

“El kamu baik-baik aja kan ?”

“Funny are okay?”

“El kondisimu gimana, kamu dimana, ngungsi gak?”

“Ndoet kasih kabar lah”

Banyak sekali pesan singkat yang muncul setelah bisa mengaktifkan kembali handphone yang sempat kehabisan pengisi dayanya dikarena matii lampu.

Mungkin jika mereka adalah sahabat, teman atau kerabat masih bisa dipahami tapi mereka adalah bagian terluar dalam hidupku yang notabenenya jarang sekali berkomunikasi kembali atau bahkan jarang. Mereka dahulu adalah orang yang pernah menjadi orang yang paling deket dan seperti biasa ketika kedekatan tersebut harus diakhiri maka yang tertinggal hanyalah kenangan saja.

Mungkin butuh waktu untuk menyadari bahwa sebuah hubungan bisa berakhir, butuh waktu pula untuk menyembuhkan luka, butuh waktu meyadari kita tak lagi harus bersitegang yah mungkin seperti itu yang terjadi pada kami.

Ada yang menyakiti aku, tak sedikit pula aku yang menyakiti mereka namun nyatanya kami lebur semua, tak ada lagi bekas, mantan, musuh, yang ada hanya kita semua teman dan sebagai teman kita harus perduli, perduli bisa dalam berbagai hal termasuk menanyakan keadaan.

Beberapa kali menitikkan air mata tanda terharu, aku melihat mereka dengan tulus sekali bergantian menanyakan kabarku, sementara aku berfikir bisakah aku melakukan hal yang sama untuk mereka ? Harus bisa !

“Tak perlu bersusah payah untuk membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan, karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik” ini adalah quote dari Bunda Qori dan aku mengutipnya untuk tulisan kali ini.

Ah iya betuul sekali memaafakan memang pembalasan yang terbaik dan akan kukatakan “aku memaafkan kalian semua,sebagaimana kalian telah memaafkan aku, terima kasih”

Rumah Pohon
15 februari 2014
11.00 wib

*maaf belum bisa blogwalking internet kacau*

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements